[MFH News, 13/01/2025], Mataram – Di balik layanan medis yang menyelamatkan nyawa, tersembunyi fakta mengejutkan: tenaga medis, yang menjadi garda terdepan, sering kali bekerja dalam bayang-bayang risiko tinggi. Cedera kerja, paparan penyakit, hingga tekanan mental menjadi ‘harga yang dibayar’ demi melayani pasien. Pertanyaannya, Mungkinkah keselamatan kerja dan urgensi medis berjalan beriringan, atau salah satunya selalu harus dikorbankan? Dua pakar di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Rumah Sakit Siloam dan RSUP NTB berbicara blak-blakan mengenai tantangan besar yang dihadapi fasilitas kesehatan dalam menerapkan budaya K3 Rumah Sakit.
Acara yang berlangsung di Aula 1 Politeknik MFH pada Sabtu (11/01) ini mengangkat tema besar: Urgensi Medis vs. Keselamatan Kerja, yang mencerminkan dilema yang sering terjadi di dunia kesehatan. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa K3, akademisi, dan praktisi dari berbagai sektor kesehatan dengan mengahdirkan 2 narasumber utama yaitu dr. Asri Buana Citra Dewi, MARS., MM, Kepala K3 RS Siloam, dan Anggrayni Rosita Sari, SST, Pembimbing Kesehatan Kerja RSUD Provinsi NTB. Kuliah Pakar K3 Rumah Sakit yang diagendakan oleh program Studi K3 Politeknik MFH ini merupakan serangkaian kegiatan dalam menyambut bulan K3 Nasional.
Dalam paparannya, Anggrayni Rosita Sari, SST,menekankan pentingnya safety leadership dalam membangun budaya K3 yang berkelanjutan di rumah sakit. “Kepemimpinan di bidang K3 adalah kunci utama. Seorang pemimpin harus mampu memberikan contoh, menciptakan komunikasi yang efektif, dan membangun kepercayaan di antara seluruh tenaga medis dan staf. Hanya dengan pendekatan ini, budaya K3 dapat diterapkan secara konsisten,” ujar Bu Anggrayni.
Beliau juga membagikan pengalaman nyata dari RSUD Provinsi NTB, di mana pendekatan kepemimpinan yang kolaboratif berhasil menurunkan tingkat insiden kerja secara signifikan, dan menyoroti pentingnya komitmen bersama dari seluruh level organisasi.
“Budaya K3 bukan hanya tentang aturan dan kebijakan. Ini adalah soal bagaimana kita menginternalisasi nilai-nilai keselamatan dan kesehatan kerja dalam setiap tindakan. Kepemimpinan K3 harus hadir di semua lini, dari direktur hingga petugas kebersihan,” tegas bu Anggrayni.
Sementara itu, dr. Asri Buana Citra Dewi, MARS., MM, menjelaskan bahwa rumah sakit kerap dihadapkan pada dilema besar: menyeimbangkan urgensi pelayanan medis dengan keselamatan tenaga kerja. “Kita sering kali terlalu fokus pada pasien hingga melupakan bahwa tenaga medis adalah aset utama. Mereka harus dilindungi agar dapat memberikan pelayanan terbaik,” tegasnya.
Kedua narasumber sepakat bahwa urgensi medis dan keselamatan kerja bukanlah pilihan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari koin yang sama.
“Budaya K3 yang kuat sebenarnya mendukung urgensi medis, karena tenaga kerja yang sehat dan aman akan memberikan pelayanan yang lebih baik dan cepat,” kata dr. Asri. Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang baik atau safety leadership adalah kunci utama dalam memastikan keduanya dapat berjalan beriringan.
dr. Asri menambahkan bahwa kesadaran seluruh elemen organisasi, mulai dari pimpinan hingga staf, sangat penting dalam menciptakan budaya K3. “Kepemimpinan K3 harus dilandasi oleh komitmen dan keteladanan. Hanya dengan itu, rumah sakit dapat menjadi tempat kerja yang aman sekaligus memberikan pelayanan medis terbaik,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Kaprodi K3 Politeknik MFH, Hizriansyah, S.KM., M.MPH, menyampaikan mengungkapkan alasan dibalik pemilihan keunggulan dalam visi program studi dan tujuan diangkatnya tema Urgensi medis VS keselamatan kerja pada kuliah pakar ini.
“Visi kami untuk menjadi program studi unggul di bidang K3 Rumah Sakit lahir dari kesadaran bahwa lingkungan kerja di rumah sakit menghadirkan dilema besar: urgensi pelayanan medis yang tidak bisa ditunda dan keselamatan kerja yang tidak boleh diabaikan. Kami percaya bahwa kunci untuk menjawab tantangan ini adalah mencetak pemimpin yang berkarakter, yang mampu membuat keputusan strategis tanpa mengorbankan salah satu aspek. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap mahasiswa dapat memahami kompleksitas tersebut dan terinspirasi untuk menjadi pemimpin K3 yang tangguh dan visioner,” ujar Hizriansyah
Sementara itu, Direktur Politeknik MFH Mataram, Apt. Ajeng Dian Pertiwi, M.Farm, menggarisbawahi pentingnya sinergi antara dunia akademik dan praktisi dalam mencetak tenaga K3 yang kompeten.
“Kegiatan seperti ini memberikan wawasan nyata kepada mahasiswa tentang dunia kerja. Kami percaya, kolaborasi antara institusi pendidikan dan praktisi akan mendorong terciptanya budaya K3 yang lebih kuat di Indonesia,” ungkap Ajeng.
Kuliah pakar ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman mereka tentang tantangan dan solusi dalam membangun budaya K3. Sesi tanya jawab di akhir acara berlangsung interaktif, dengan banyak peserta yang mengajukan pertanyaan terkait strategi membangun kepemimpinan K3 di tempat kerja.
Acara ini ditutup dengan pesan inspiratif dari dr. Asri: “K3 adalah tentang menyelamatkan nyawa, bukan hanya menjalankan regulasi. Jadilah pemimpin yang peduli akan keselamatan dan kesehatan, karena setiap langkah kecil Anda membawa dampak besar.”
Kuliah pakar ini menjadi bukti komitmen Prodi K3 Politeknik MFH Mataram untuk terus menghadirkan diskusi relevan demi mencetak tenaga profesional yang siap menghadapi tantangan dunia kerja.
