You are currently viewing Benang Kelambu Jadi “Kelas Terbuka”, Mahasiswa D3 Perjalanan Wisata UNBIM Bongkar Potensi Ekowisata Lombok

Benang Kelambu Jadi “Kelas Terbuka”, Mahasiswa D3 Perjalanan Wisata UNBIM Bongkar Potensi Ekowisata Lombok

[Kabar Diksa, 05/10/2026], Mataram  — Benang Kelambu biasanya menjadi tempat orang datang untuk menikmati air terjun dan melepas penat. Namun, mahasiswa D3 Perjalanan Wisata Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM) justru datang dengan pertanyaan yang berbeda: apa yang membuat tempat ini menarik bagi wisatawan, dan bagaimana potensi alamnya bisa dikembangkan tanpa merusak lingkungan?

Pertanyaan itu mereka bawa ketika melakukan field study di kawasan Air Terjun Benang Kelambu, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, Sabtu (3/10/). Bersama dosen, mahasiswa mengamati langsung daya tarik wisata, kondisi lingkungan, aktivitas pengunjung, serta potensi pengembangan kawasan dari perspektif ekowisata dan pariwisata berkelanjutan.

Di tengah suasana destinasi yang ramai oleh aktivitas wisata, mahasiswa tidak hanya menikmati pemandangan. Mereka belajar melihat Benang Kelambu dari sudut pandang yang berbeda: bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan destinasi yang harus dipahami, dikelola, dan dijaga keberlanjutannya.

Selama berada di kawasan wisata, mahasiswa mengamati berbagai hal yang berkaitan dengan destinasi. Mereka melihat daya tarik alam yang dimiliki Benang Kelambu, kondisi lingkungan, aktivitas wisatawan, serta potensi pengembangan kawasan dengan pendekatan ekowisata dan pariwisata berkelanjutan.

Dari kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya belajar mengenali apa yang menarik dari sebuah tempat wisata. Mereka juga diajak melihat bagaimana lingkungan memengaruhi pengalaman wisatawan dan mengapa pengelolaan destinasi perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam serta kondisi masyarakat di sekitarnya.

Dosen Program Studi D3 Perjalanan Wisata UNBIM, Hamdani Satriawan, M.Par., mengatakan pembelajaran langsung di destinasi memberi pengalaman yang sulit diperoleh hanya melalui materi perkuliahan.

“Pembelajaran pariwisata tidak cukup hanya dilakukan di dalam kelas. Mahasiswa perlu melihat dan mengalami secara langsung bagaimana sebuah destinasi memiliki daya tarik, bagaimana wisatawan berinteraksi dengan lingkungan, serta bagaimana prinsip keberlanjutan diterapkan di lapangan,” kata Hamdani.

Menurut Hamdani, Benang Kelambu menjadi salah satu lokasi yang relevan untuk mempertemukan teori dengan praktik. Mahasiswa dapat melihat secara langsung keterkaitan antara potensi alam, aktivitas wisatawan, pengelolaan destinasi, dan isu keberlanjutan yang menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata saat ini.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga memberi sudut pandang baru bahwa bekerja di bidang pariwisata tidak berhenti pada urusan perjalanan dan pelayanan wisatawan. Ada kemampuan untuk mengenali potensi destinasi, memahami karakter wisatawan, membaca persoalan di lapangan, serta memikirkan bagaimana sebuah destinasi dapat berkembang tanpa kehilangan nilai lingkungan dan lokalnya. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Prodi D3 Perjalanan Wisata UNBIM mendekatkan proses pembelajaran dengan kondisi nyata industri pariwisata. Hasil pengamatan mahasiswa selanjutnya dapat menjadi bahan diskusi perkuliahan dan dikembangkan untuk kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun kolaborasi dengan pengelola destinasi wisata lokal.