[MFH News, 28/06/2024], Mataram – Program Studi D3 Rekam Medis dan D4 Manajemen Informasi Kesehatan berkolaborasi menggelar kuliah pakar dengan topik “Rekam Medis Elektronik sebagai Penggerak Akreditasi Puskesmas”. Acara ini menghadirkan ahli dari sebagai seorang asesor akreditasi Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI) yang menjelaskan peran penting rekam medis elektronik dalam proses akreditasi puskesmas pada (26/06) diruang aula 2 Politeknik Medica Farma Husada Mataram
Ibu Wulandari Dewi S. S.ST., M.Kes , Kaprodi RMIK, menjelaskan bahwa rekam medis elektronik memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan di puskesmas. “Dengan implementasi rekam medis elektronik, data pasien dapat diakses dengan cepat dan akurat. Ini membantu tenaga medis dalam memberikan perawatan yang lebih baik dan responsif, yang merupakan salah satu indikator penting dalam proses akreditasi,” ujarnya.
Menurut nya, rekam medis elektronik juga mempermudah monitoring dan evaluasi kinerja puskesmas. Data yang tersimpan secara digital memungkinkan pengelolaan informasi kesehatan yang lebih baik, serta meminimalkan risiko kesalahan medis akibat pencatatan manual. “Dengan sistem yang terintegrasi, puskesmas dapat memenuhi standar akreditasi dengan lebih efisien dan efektif,” tambahnya.
Ibu Nurul Khatimah Ismatullah, S.Tr.Kes., MKM Kaprodi MIK, juga menekankan pentingnya teknologi dalam menunjang standar pelayanan kesehatan. “Rekam medis elektronik bukan hanya alat pencatatan, tetapi juga sistem manajemen informasi yang mampu memberikan analisis data untuk pengambilan keputusan yang lebih baik,” jelasnya.
Bu Kaprodi MIK juga menyoroti bahwa penggunaan rekam medis elektronik dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pelayanan kesehatan di puskesmas. “Data yang tersimpan secara digital memungkinkan audit yang lebih mudah dan cepat, sehingga setiap tindakan medis dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Ini adalah aspek penting dalam penilaian akreditasi,” paparnya.
Narasumber Ibu Deasy Mariyani, SKM., m.Kes juga membahas tantangan yang dihadapi dalam implementasi rekam medis elektronik di puskesmas. Salah satu tantangan utama adalah kesiapan sumber daya manusia. “Tidak semua tenaga kesehatan terbiasa dengan teknologi ini, sehingga diperlukan pelatihan dan pendampingan yang intensif,” kata bu Deasy.
beliau menambahkan bahwa infrastruktur teknologi di puskesmas juga perlu ditingkatkan. “Konektivitas internet yang stabil dan perangkat keras yang memadai sangat penting untuk mendukung sistem ini. Pemerintah perlu memberikan dukungan yang lebih besar untuk memastikan keberhasilan implementasi rekam medis elektronik di seluruh puskesmas,” ujarnya.
Kuliah pakar ini menegaskan bahwa rekam medis elektronik adalah kunci untuk meningkatkan akreditasi puskesmas. Dengan mengintegrasikan teknologi dalam manajemen informasi kesehatan, puskesmas dapat mencapai standar pelayanan yang lebih tinggi, efisien, dan akuntabel.
Acara ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta dapat berdiskusi langsung dengan narasumber tentang berbagai aspek rekam medis elektronik dan tantangannya dalam meningkatkan akreditasi puskesmas. Kuliah ini memberikan wawasan yang berharga dan memotivasi para peserta untuk terus berinovasi dalam bidang kesehatan.
