Oleh: Muhamad Khalid Iswadi, M.Sos (ketua kajian stunting kabupaten Lombok barat 2025)
(Kabar UNBIM 21/11/2025) Seperti kabar yang terus terpampang di balik dinding fasilitas kesehatan, stunting masih menjadi bayang-bayang panjang yang menggerogoti masa depan anak-anak Lombok Barat. Program nasional sudah berkali-kali digaungkan, strategi dituangkan dalam dokumen negara, dan kampanye gizi berseliweran di media sosial. Namun angka stunting tidak kunjung berubah secara signifikan. Tahun 2024, SSGI mencatat prevalensi stunting di NTB berada pada titik 29,8 persen, jauh melampaui ambang batas aman WHO. Lombok Barat sendiri menempati peringkat kelima tertinggi di provinsi, dengan 27,3 persen balita mengalami stunting. Angka-angka itu bukan lagi sekedar statistik, melainkan alarm keras atas intervensi lintas sektor dalam menyentuh masalah paling mendasar: kemiskinan struktural, literasi gizi, dan akses pangan yang timpang.
Dalam lanskap yang serba mendesak ini, Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM) muncul sebagai aktor akademik yang hanya meneliti dari balik meja. Di bawah dorongan Rektor Apt. Ajeng Dian Pertiwi, M.Farm, kampus ini turun langsung ke medan persoalan. Melalui kolaborasi dengan Bappeda Lombok Barat, UNBIM merombak cara pandang terhadap stunting dari sekadar laporan angka analisis menjadi berdasarkan bukti yang menelusuri akar masalah hingga akar paling dalam. Hasilnya bukan sekedar kajian akademis, namun peta pemikiran baru tentang arah pembangunan gizi daerah. Atas kontribusi ini, Bappeda Lombok Barat memberikan penghargaan khusus kepada UNBIM sebagai mitra akademik yang dinilai menghasilkan rekomendasi paling aplikatif dan berbasis data.
Kajian UNBIM tidak berhenti pada tabel numerik dan grafik pemodelan. Ia menjelajah sembilan desa di tiga kecamatan: Sekotong, Gunungsari, dan Narmada wilayah yang dalam peta SSGI tampak merah pekat. Desa Buwun Mas, Batu Putih, Kekeri, Selat, Jembatan Gantung, dan deretan desa lain memperlihatkan pola yang serupa: ketidak tahanan pangan rumah tangga, minimnya literasi gizi, serta pola asuh yang lebih banyak dibentuk oleh keterbatasan ketimbang pengetahuan. Di balik setiap angka ada wajah: anak yang makan sekadarnya, ibu yang menunda pemeriksaan ke posyandu, dan keluarga yang menggantungkan gizi pada mie instan yang dianggap “praktis”.
Pemilihan desa tidak dilakukan asal tunjuk. UNBIM menggunakan matriks dua variabel: tingginya prevalensi stunting dan kekuatan potensi lokal yang belum dioptimalkan. Misalnya, desa-desa dengan produksi hortikultura cukup tinggi justru dihadapkan pada ironi: hasil kebun dijual keluar desa, sementara konsumsi gizi keluarga petani sendiri tidak terpenuhi. Di titik inilah UNBIM hadir dengan pendekatan edukatif-partisipatif, menyasar empat simpul yang menentukan masa depan generasi berikutnya: kader posyandu, ibu hamil dan ibu balita, pemerintah desa, dan calon pengantin aktor kunci dalam siklus 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Presentasi hasil kajian di hadapan 23 kepala dinas lintas sektor, direktur RSUD, akademisi, dan dokter anak Lombok Barat berlangsung empiris praksis. Tidak ada ruang untuk retorika manis. Stunting diposisikan sebagai keadaan darurat masa depan, bukan sekadar “isu gizi”. Laporan UNBIM mengeluarkan delapan rekomendasi kunci: mulai dari rekonstruksi data stunting, reformulasi edukasi gizi berbasis literasi digital, penataan ulang posyandu sebagai garda terdepan layanan komunitas, hingga usulan pembentukan Desa Siaga Gizi berbasis potensi lokal. Setiap rekomendasi memuat desain kebijakan yang dapat langsung diadopsi pemerintah daerah,sesuatu yang jarang muncul dalam riset akademik yang biasanya mengambang dan sulit diterapkan.
Penghargaan Bappeda Lombok Barat kepada UNBIM pada akhirnya bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penanda bahwa kritik akademik yang tajam dan berbasis evidens mulai menemukan tempat dalam pengambilan keputusan daerah. Di tengah stagnasi angka stunting, keberanian membaca ulang persoalan dan mengakui kegagalan masa lalu tampak lebih penting dari sekadar menambah program baru.
UNBIM, dalam konteks ini, bukan hanya kampus muda yang sedang mencari jejak reputasi. Ia tampil sebagai mitra strategis yang memberi arah: bahwa kebijakan publik yang solid hanya lahir dari keberanian menelisik data, membongkar kelemahan, dan mengubah asumsi lama. Lombok Barat tampaknya mulai memahami itu dan penghargaan ini menjadi bukti kecil bahwa sains, bila dikelola dengan benar, tetap punya ruang untuk mengubah wajah pembangunan.
