[MFH News, 03/07/2025], Mataram — Menjadi saksi langkah berani Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Pendidikan dan Humaniora (Fispendum), Bustanul Atfal, M.Si, yang memutuskan ‘membedah habis’ visi, misi, tujuan, dan strategi program studi. Langkah ini bukan sekadar rutinitas, tetapi awal dari revolusi akademik yang ditargetkan mampu mendorong Fispendum melompat jauh menembus batas prestasi yang lebih tinggi.
Sejak pagi, Aula Bima dipenuhi para dosen, ketua program studi, sekretaris prodi, hingga staf akademik. Mereka datang bukan hanya untuk mendengar, tetapi untuk terlibat langsung dalam proses evaluasi yang Bustanul sebut sebagai “bedah total arah Fispendum ke depan.”
“Kalau kita mau jadi besar, jangan takut membongkar ulang fondasi. Visi-misi itu bukan hanya formalitas di borang akreditasi — tapi jiwa kita, kompas arah kita. Kalau arahnya kabur, semua jadi ragu,” tegas Bustanul membuka forum diskusi.
Dalam pemaparannya, Bustanul menekankan bahwa perubahan zaman yang sangat cepat membuat perguruan tinggi wajib lebih adaptif. Visi dan misi harus relevan dengan kebutuhan industri, teknologi, dan perkembangan pendidikan global. Tak hanya itu, strategi pengembangan pun harus bisa diukur dan dijalankan dengan target yang jelas.
Suasana diskusi di Aula Bima pun memanas — dalam arti positif. Beberapa dosen terlihat bersemangat mengkritisi rumusan lama yang dianggap terlalu normatif. Tak sedikit pula yang mengusulkan pembaharuan strategi, seperti penekanan pada kolaborasi lintas disiplin, peningkatan kualitas riset dosen dan mahasiswa, serta pembentukan program magang internasional.
“Ini momen langka. Biasanya evaluasi visi-misi hanya formalitas, tapi sekarang kami benar-benar merasa terlibat. Pak Dekan membuka ruang kritik dan ide segila apa pun diterima,” ungkap salah satu kaprodi Fispendum.
Tak berhenti di evaluasi awal, Bustanul memastikan bahwa hasil diskusi akan ditindaklanjuti dengan pembentukan Tim Revisi Visi-Misi yang melibatkan semua elemen — dari pimpinan fakultas, kaprodi, mahasiswa, hingga mitra eksternal. Tim ini akan bekerja cepat agar rancangan final dapat disahkan sebelum tahun akademik baru dimulai.
Selain membongkar visi-misi, forum evaluasi ini juga membahas penajaman tujuan dan strategi prodi yang mengarah pada peningkatan akreditasi, reputasi publikasi ilmiah, penguatan jejaring, hingga pengembangan soft skills mahasiswa. Bustanul bahkan menegaskan perlunya membuka jalur kerjasama internasional sebagai salah satu tolok ukur prodi berkelas dunia.
“Lompatan prestasi itu lahir dari visi yang jelas, strategi yang realistis, dan komitmen bersama. Saya percaya Fispendum punya modal itu. Tinggal kita mau atau tidak bekerja lebih keras dan lebih berani,” tutup Bustanul di tengah tepuk tangan peserta diskusi.
Langkah berani Dekan Fispendum ini menjadi sinyal bahwa perubahan nyata tidak bisa lagi ditunda. Visi, misi, tujuan, dan strategi bukan sekadar kata-kata, tetapi fondasi yang akan menentukan arah Fispendum dalam menjawab tantangan masa depan. (Red. Al Hijr)
