[MFH News, 24/05/2025], Mataram – Langkah kaki para pemimpin akademik Asia Tenggara menyatu dalam satu panggung megah. Namun, sorotan paling terang jatuh pada satu nama dari Indonesia: Dr. Syamsuriansyah,, Rektor Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM) Mataram. Membawa semangat kolaborasi dan inovasi, Dr. Syam tak hanya hadir sebagai peserta, melainkan sebagai simbol kebangkitan sains dan teknologi medis Indonesia di mata ASEAN.
Dr. Syam, yang juga menjabat sebagai Presiden ASEAN Association of Schools of Medical Technology (AASMT) periode 2022–2024, tampil memukau dalam ASEAN Medical Technology Stakeholders Summit and Research Conference 2025 yang digelar di Filipina, 20-23 Mei. Kegiatan ini menjadi forum bergengsi yang mempertemukan para pemimpin, peneliti, dan pengambil kebijakan di bidang teknologi kesehatan dari berbagai negara ASEAN.
Tak sendiri, Rektor UNBIM didampingi oleh Wakil Direktur Bidang Kerjasama, Dr. Alfisahrin, dalam misi diplomasi akademik dan penguatan jejaring internasional. Keduanya memanfaatkan momentum forum ini untuk memperbarui kerja sama strategis dengan berbagai institusi pendidikan dan riset medis di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pidatonya, Dr. Syam menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menciptakan ekosistem inovasi yang berdampak langsung pada sistem kesehatan nasional. “Kita hidup di era kolaborasi, bukan kompetisi. Dunia kesehatan membutuhkan sinergi, bukan ego sektoral. Melalui riset bersama dan pendidikan lintas batas, ASEAN bisa menjadi episentrum inovasi kesehatan dunia,” tegasnya dalam pidato pembukaan.
Momentum konferensi ini sekaligus menjadi tonggak sejarah bagi AASMT, di mana Dr. Syam resmi menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Prof. Dr. Mohd Nazil Salleh dari University College MAIWP International Malaysia, tokoh akademik yang selama ini aktif dalam pengembangan kurikulum dan teknologi kesehatan di negaranya. Serah terima ini berlangsung dalam suasana penuh kehangatan, apresiasi, dan semangat melanjutkan visi ASEAN yang inklusif dan inovatif.
Selain menghadiri forum plenary, delegasi UNBIM secara intensif mengikuti sejumlah sesi bilateral dan networking meeting dengan institusi dari Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Hasilnya, beberapa Letter of Intent (LoI) dan draft Memorandum of Understanding (MoU) telah dijajaki untuk segera ditindaklanjuti.
“Kami tidak datang hanya untuk berbicara, tetapi untuk bekerja sama. UNBIM siap menjadi mitra sejajar bagi kampus-kampus besar di ASEAN, dalam riset, pertukaran akademik, maupun pengembangan kurikulum,” tutur Dr. Alfisahrin.
“Dengan semangat from NTB to ASEAN, kita ingin membuktikan bahwa kampus daerah pun mampu berkontribusi di panggung global.” tambahnya.
Bagi UNBIM, kehadiran di forum ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret memperluas cakrawala akademik dan menjadikan Indonesia pemain utama dalam riset dan pendidikan teknologi medis di Asia Tenggara.
Partisipasi aktif UNBIM dalam forum internasional ini menunjukkan bahwa kampus yang berasal dari Indonesia bagian timur mampu bersaing dan berkontribusi dalam agenda global. Di tengah upaya internasionalisasi pendidikan tinggi, UNBIM terus membuktikan bahwa kualitas tidak ditentukan oleh lokasi geografis, tetapi oleh visi, kepemimpinan, dan komitmen pada kemajuan bersama.
“Kami membawa semangat Indonesia, semangat Bima International University, untuk berkolaborasi dan tumbuh bersama. Dunia harus tahu bahwa dari NTB, lahir pemimpin yang siap membangun masa depan ASEAN,” tutup Dr. Syam dengan optimistis. (Al Hijr)
